Membaca Insiden Tertabraknya Driver Ojol Dalam Aksi Demonstrasi di DPR RI Menggunakan Perspektif Foucault dan Habermas
Insiden tertabraknya seorang pengemudi ojek online oleh kendaraan taktis Brimob dalam aksi demonstrasi di DPR RI pada 28 Agustus kemarin tidak dapat hanya dipandang sebagai kecelakaan lalu lintas semata.
Jika menggunakan perspektif Michel Foucault, peristiwa ini merupakan konsekuensi logis dari hadirnya aparatus disiplin negara di ruang publik.
Mobil barakuda tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengamanan, melainkan simbol kekuasaan yang ditujukan untuk mendisiplinkan tubuh-tubuh warga melalui rasa takut.
Kekerasan yang dialami masyarakat sipil, baik langsung maupun tidak langsung, memperlihatkan bagaimana negara cenderung memprioritaskan logika kontrol ketimbang keselamatan warga.
Di sisi lain, Jourgen Habermas akan menafsirkan insiden ini sebagai bentuk distorsi komunikasi antara negara dan masyarakat.
Demonstrasi sebagai ruang publik semestinya menjadi arena dialog rasional antara warga dan pemerintah, namun kehadiran barakuda justru menutup ruang diskursus dan menggantinya dengan intimidasi.
Akibatnya, negara kehilangan legitimasi komunikatif karena gagal menjaga prinsip dasar demokrasi, yakni keterbukaan ruang publik bagi suara kritis.
Dengan demikian, baik melalui kacamata Foucault maupun Habermas, insiden ini merefleksikan krisis demokrasi, negara lebih menonjolkan kekuasaan dan paksaan dibandingkan membangun konsensus dengan rakyatnya.
Penulis: Redaksi Reference
Komentar
Posting Komentar