Skip to main content

Dilema Pandemi Covid-19, Menurunnya Pendapatan Warga Hingga Alih Profesi Nelayan Desa Leran, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang

 

Suasana Warga Nelayan Yang Menjual Ikan Hasil Tangkapannya Ditengah Pandemi Covid-19

(Sumber foto: https://www.mongabay.co.id/2020/12/28/catatan-akhir-tahun-perjuangan-masyarakat-pesisir-keluar-dari-tekanan-pandemi-covid-19) 

Desa Leran merupakan desa di Kecamatan Sluke yang letaknya paling barat atau berbatasan langsung dengan Kecamatan Lasem. Mayoritas penduduk desa ini bermata pencaharian dengan mengandalkan sumber daya pesisir dan laut yang dimiliki, mengingat letak geografisnya yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. 

Dengan posisi yang dimiliki, desa ini menanggung beban dan konsekuensi atas kondisi alam yang mereka miliki. Akibatnya, berdampak pula terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakatnya, terlebih lagi mereka bergulat dengan pandemi Covid-19 yang sudah menjadi bagian dari tubuh masyarakat sejak tahun 2020 silam.

 Dari awal mula virus Covid-19 ini ditetapkan sebagai pandemi, semua aktivitas di seluruh bidang kehidupan menjadi rancu, tak terkecuali juga di bidang perekonomian. Termasuk juga masyarakat nelayan di Desa Leran, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang. Pasalnya selama masa pandemi ini hasil tangkapan para nelayan dihargai sangat murah, hal tersebut terjadi pada jenis ikan-ikan tertentu yang menjadi komoditas ekspor.

Tragisnya lagi, Pabrik-pabrik atau pengepul ikan mulai mengurangi pembelian ikan dari para nelayan setempat. Hal tersebut berdampak terhadap kondisi perekonomian nelayan, mau tidak mau nelayan harus menjual hasil tangkapannya dengan harga seadanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dikutip dari (https://knti.or.id/kondisi-sosial-ekonomi-nelayan-dan-pembudidaya-di-masa-pandemi-covid-19) Mayoritas daerah telah melaporkan terjadinya penurunan harga ikan komoditas ekspor, penjualan tangkapan juga menurun drastis akibat pengepul yang membatasi bahkan tidak melayani pembelian. Kondisi ini menyebabkan nelayan/pembudidaya kewalahan menjual hasil tangkapannya. Hal ini semakin menjadi parah karena negara tujuan ekspor ikan sedang “menutup diri” yang melibatkan transaksi internasional. Ini terjadi karena menurunnya daya beli masyarakat sehingga tempat pelelangan ikan sepi akibat penerapan kebijakan dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19 yang disosialisasikan pemerintah daerah. 

Saat pandemi ini tidak hanya nelayan di Desa Leran saja yang terdampak, tetapi seluruh nelayan juga mengalami hal yang sama. Di Desa Leran sendiri, untuk dapat bertahan hidup nelayan menyiasati dengan menjual hasil tangkapan dengan harga yang murah agar tetap mendapatkan pemasukan dari hasil tangkapan ikan tersebut. Jika dilihat dari modal dan hasil yang didapatkan oleh nelayan tidaklah sebanding dengan modal untuk membeli BBM yang harus dikeluarkan terhadap harga jual ikan atau komoditas lainnya. Selain harga ikan yang merosot, harga biota lain seperti kepiting juga ikut merosot. Dari yang semula Rp 85.000;/kg menjadi Rp45.000;/kg terhitung mulai awal agustus 2020 hingga awal tahun 2021. 


Menurut Mustakim, salah seorang nelayan di desa Leran menuturkan bahwa di masa pandemi seperti ini mereka yang berprofesi sebagai nelayan harus banting setir untuk memenuhi kebutuhan keluarga, salah satunya dengan menjadi buruh tani. (22/4/2021)

Kebanyakan nelayan di desa Leran juga memilih untuk alih profesi dengan menjadi buruh tani untuk menyambung hidup. Mereka yang bekerja sebagai buruh tani ketika penanaman padi telah selesai, maka para buruh tani ini akan memperoleh upah sebesar 30 ribu rupiah dan waktu pengerjaannya hanya sampai dengan jam 10.00 WIB. Dengan adanya situasi dan kondisi seperti itu masyarakat nelayan dituntut harus tetap dapat bertahan hidup.

Dikutip dari Knti.or.id, upaya lain juga telah dilakukan oleh pemda dan pemdes setempat untuk mengatasi hal tersebut dengan melakukan refocusing dan realokasi anggaran, khususnya program-program yang ditujukan bagi perlindungan dan pencegahan dampak Covid-19 bagi masyarakat nelayan, termasuk penyiapan skema jaring pengaman sosial bagi keluarga nelayan.

Kondisi Pantai Desa Leran 
(Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi, 25 Mei 2021)
     

Penulis: Mahasiswa Sosiologi Fisip 2018 KKL Webinar Series Tema Masyarakat Kota Pesisir

Redaktur: Ayu Rachmahwati

Comments

Popular posts from this blog

Kecewa UKT Mahal, MABA FISIP Gelar Unjuk Rasa di Depan WR 3

      http://www.lpmreference.com Hari terakhir PBAK (Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan) menjadi momentum Mahasiswa baru (Maba) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) untuk unjuk rasa terkait mahalnya Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Realisasi Program Ma'had tepat di depan Wakil Rektor 3, Minggu 6 Agustus 2023. Aksi yang bertempat di depan Land Mark Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang tersebut di latar belakangi atas ketidakkepuasan MABA FISIP tentang UKT yang begitu mahal, UKT yang tidak tepat sasaran dan Realisasi Program Ma'had yang masih jauh dari kata memuaskan untuk para MABA. Massa Aksi membentangkan spanduk yang bertuliskan "Tolak Komersialisasi Pendidikan, Tolong Kami", "Regulasi Ma'had ugal-ugalan pelan-pelan pak Rektor". Aksi yang berlangsung pada pukul 17.20 WIB, secara kebetulan tepat berada di depan Wakil Rektor 3 yaitu  Achmad Arief Budiman dan disaksikan oleh nya secara langsung. "Mari kita kawal bersama adek-adek

Fenomena Bahasa Campur-Campur ala “Anak Jaksel”

Gambar 1.1. Contoh meme yang membahas karakteristik “anak Jaksel”. Belakangan ini media sosial seperti Twitter dan Instagram ramai menyinggung fenomena tentang bentuk komunikasi yang terkenal kerap menyisipkan bahasa Inggris di dalam percakapan bahasa Indonesia. Cara bicara tersebut dianggap sebagai gaya bahasa anak-anak yang tinggal di Jakarta Selatan atau biasa disebut “a nak Jaksel ” . Kata yang umum dipakai antara lain adalah which is (yang), literally (secara harfiah), at least (minimal), even (bahkan), dan lain-lain. Gaya bahasa tersebut pun makin populer karena banyak selebrit as , pegiat Twitter, pegiat Instagram, dan pegiat Youtube atau video bloger juga menggunakan gaya bahasa tersebut dalam konten-konten yang mereka buat, sehingga makin marak diperbincangkan di kalangan warganet , yakni seseorang yang aktif mengakses internet, khususnya media sosial dalam kesehariannya. Mengutip tulisan tirto.id berjudul Gaya Bahasa ala “ A nak Jaksel” di Kalangan Pejabat

Kampus UIN Walisongo disebut Anti Kritik, Begini Tanggapan Mahasiswa Baru Sosiologi 2023

      http://www.lpmreference.com Kampus UIN Walisongo Semarang disebut anti kritik, hal ini diungkapkan  mahasiswa baru Sosiologi angkatan 2023. Baru-baru ini, pada pelaksanaan hari pertama PBAK terpantau ada spanduk yang terpasang di sekitar gedung FISIP UIN Walisongo Semarang diturunkan oleh pihak kampus. Spanduk tersebut berisi kritik terhadap kebijakan kampus seperti isu UKT, isu ma'had, komersialisasi pendidikan dan sebagainya.  "Bahwa pihak kampus telah membatasi ruang kebebasan ekspresi untuk mahasiswa menyuarakan suaranya." Padahal kampus seharusnya menjadi tempat pendidikan yang merdeka bagi para Mahasiswa, " ungkap Kia Mahasiswa Baru Sosiologi 2023.  Menurut Kia, bahwa adanya sebuah kritik justru akan membuat kampus menjadi lebih baik. Bukan malah dibungkam seperti itu.  Sementara itu, Gibran, Mahasiswa baru Sosiologi 2023 mengatakan bahwa isu ma'had merupakan hal yang paling krusial dan patut kita kawal bersama-sama. Namun tidak pernah  mendapatkan pe