Skip to main content

Pulang

 

Pulang

http://bit.ly/40KwXTN


Aku telah pulang

Pengembaraanku telah usai

Dan citaku telah tergapai

Kini waktunya aku kembali

 

Kepada kehangatan mentari

Bilur-bilur yang telah menunggu

Untaian kata yang tak terkirakan

Tentang rindu yang mencabik-cabik qalbu

Raga yang sepi di keramaian

Tentang nyanyian surauku yang menjadi parau

 

Sendu yang menggebu-gebu

Hanya kepelukanmu aku melebur

Hanya ragamu tempatku berteduh

Waktu melengserkankanmu dari benakku

Bersama rasa dan karsa yang hampir mati

 

Aku pulang

Sambutlah kepulanganku, tuan

Tak rindukah kau pada senja yang kau tuju dulu

Untuk menikmati sang surya berpamitana

Yang digantikan kehangatan sang dewi malam

Lihatlah!

Aku tepat berdiri di ambang pintu hatimu

Yang mengetuk kembali penuh rindu

Memanggil namamu dengan sisa daya upayaku

Percayalah ragaku lelah berkelana jauh darimu

 

Telah lupakah engkau?

Aku tempatmu mengadu segala sendu

Tempat kau luapkan segala caci makian atas ketidak adilan dunia padamu

Tempatmu berpulang di setiap kemusafiranmu

Aku yang tetap menggenggammu dengan erat tanpa celah

Tempatmu bersandar ketika takdir sudah tak berpihak padamu

Aku yang rela hancur melebur bersama kerapuhanmu

Yang menguatkan segala argumen pada keraguanmu

 

Dimanakah rumah itu?

Yang dahulu berdiri kokoh disetiap perihnya lara

Tempatku menemukan simpul senyum indahmu

Tempatku menenukan bingkisan-bingkisan hatiku

Kini telah luluh lantah tak tersisa

Simpul senyum itu masih kulihat indah

Tapi tak lagi untukku

 

Bagai fajar yang merebut embun dari pelikan daun

Perempuan manis yang kini dipelukanmu

Yang berhasil membuatmu berpaling dariku

 

Aku telang pulang

Namun yang kudapati adalah kelabu

Sia-sia sudah perjuanganku

Jatuh sedalam-dalamnya

 

Bagai dikejutkan petir dan badai setelahnya

Remuk hancur menjadi serpihan yang bahkan tak terjamah olehmu

Ditertawakannya daku pada dewi malam dan langit malam

Yang menatapku nanar masih di ambang pintu rumahmu

Masih terbesit jelas tentangmu di atas kepalaku

Kau, aku, dan cahaya jingga yang menghangatkan

 

Senja yang temaram

Setapak jalanan yang kita lalui

Bahkan daun-daun yang menjalar di pinggiran kota

Dan obrolan kita yang telah usai

Hingga rintikkan hujan yang jatuh ke bumi

Menyisakan kisah duka yang melebur bersama genangan

Masihkah pantas kepulanganku?

 

Peluhku menjadi pelik

Menuntut sisa-sisa kehancuran yang tak diikhlaskan

Mendekap segala realita yang kelam

Menafikkan dari sebuah kenyataan

  

Untuk rumah yang tak lagi ramah

Hawa panas telah terasa sudah

Bagaimana tidak

Api yang Bertamu lalu menetap

Kini Terlalu nyaman ditempat

Mengisi sudut fikir ruang kenihilan

Dan enggan untuk berpamitan.


Pengarang    : Syarifatul Aulia

Editor           : Suci Safitri

 

Comments

Popular posts from this blog

Kecewa UKT Mahal, MABA FISIP Gelar Unjuk Rasa di Depan WR 3

      http://www.lpmreference.com Hari terakhir PBAK (Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan) menjadi momentum Mahasiswa baru (Maba) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) untuk unjuk rasa terkait mahalnya Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Realisasi Program Ma'had tepat di depan Wakil Rektor 3, Minggu 6 Agustus 2023. Aksi yang bertempat di depan Land Mark Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang tersebut di latar belakangi atas ketidakkepuasan MABA FISIP tentang UKT yang begitu mahal, UKT yang tidak tepat sasaran dan Realisasi Program Ma'had yang masih jauh dari kata memuaskan untuk para MABA. Massa Aksi membentangkan spanduk yang bertuliskan "Tolak Komersialisasi Pendidikan, Tolong Kami", "Regulasi Ma'had ugal-ugalan pelan-pelan pak Rektor". Aksi yang berlangsung pada pukul 17.20 WIB, secara kebetulan tepat berada di depan Wakil Rektor 3 yaitu  Achmad Arief Budiman dan disaksikan oleh nya secara langsung. "Mari kita kawal bersama adek-adek

Fenomena Bahasa Campur-Campur ala “Anak Jaksel”

Gambar 1.1. Contoh meme yang membahas karakteristik “anak Jaksel”. Belakangan ini media sosial seperti Twitter dan Instagram ramai menyinggung fenomena tentang bentuk komunikasi yang terkenal kerap menyisipkan bahasa Inggris di dalam percakapan bahasa Indonesia. Cara bicara tersebut dianggap sebagai gaya bahasa anak-anak yang tinggal di Jakarta Selatan atau biasa disebut “a nak Jaksel ” . Kata yang umum dipakai antara lain adalah which is (yang), literally (secara harfiah), at least (minimal), even (bahkan), dan lain-lain. Gaya bahasa tersebut pun makin populer karena banyak selebrit as , pegiat Twitter, pegiat Instagram, dan pegiat Youtube atau video bloger juga menggunakan gaya bahasa tersebut dalam konten-konten yang mereka buat, sehingga makin marak diperbincangkan di kalangan warganet , yakni seseorang yang aktif mengakses internet, khususnya media sosial dalam kesehariannya. Mengutip tulisan tirto.id berjudul Gaya Bahasa ala “ A nak Jaksel” di Kalangan Pejabat

Kampus UIN Walisongo disebut Anti Kritik, Begini Tanggapan Mahasiswa Baru Sosiologi 2023

      http://www.lpmreference.com Kampus UIN Walisongo Semarang disebut anti kritik, hal ini diungkapkan  mahasiswa baru Sosiologi angkatan 2023. Baru-baru ini, pada pelaksanaan hari pertama PBAK terpantau ada spanduk yang terpasang di sekitar gedung FISIP UIN Walisongo Semarang diturunkan oleh pihak kampus. Spanduk tersebut berisi kritik terhadap kebijakan kampus seperti isu UKT, isu ma'had, komersialisasi pendidikan dan sebagainya.  "Bahwa pihak kampus telah membatasi ruang kebebasan ekspresi untuk mahasiswa menyuarakan suaranya." Padahal kampus seharusnya menjadi tempat pendidikan yang merdeka bagi para Mahasiswa, " ungkap Kia Mahasiswa Baru Sosiologi 2023.  Menurut Kia, bahwa adanya sebuah kritik justru akan membuat kampus menjadi lebih baik. Bukan malah dibungkam seperti itu.  Sementara itu, Gibran, Mahasiswa baru Sosiologi 2023 mengatakan bahwa isu ma'had merupakan hal yang paling krusial dan patut kita kawal bersama-sama. Namun tidak pernah  mendapatkan pe